Aku mengenal angkringan pertama kali saat seorang teman kos mengajak aku untuk nongkrong santai di warung bergerobak pada pojok jalan tepat di depan kuburan. Namanya angkringan, kata kawanku. Saat itu aku yang orang kendari, baru saja tiba di Jogya. Dan berhubung di tempat asalku tidak ditemukan warung sejenis, maka warung yang bernama angkringan ini cukup menarik perhatianku.
Warung itu hanyalah gerobak bertenda plus dua buah bangku panjang sederhana. Pemiliknya adalah seorang ketua RT di lingkungan sebelah kos-kosanku. Mayoritas pengunjungnya adalah mahasiswa di lingkungan tersebut. Dagangannya mulai dari air es sampai es milo; dari pisang goreng sampai tahu goreng; dari nasi kucing, sampai ayam goreng lengkap dengan sayurannya. Belakangan, setelah mengenal lebih banyak angkringan, saya baru tau bahwa menu yang belakangan adalah modifikasi dari menu angkringan kebanyakan. Umumnya angkringan yang memberikan pilihan menu komplit seperti itu hanya pada angkringan yang beroperasi pada wilayah yang dekat dengan kos-kosan mahasiswa.
Suasananya santai. Siapa saja bisa ngobrol berjam-jam disitu hanya dengan bermodalkan segelas teh panas dan beberapa potong gorengan. Dan karena pelanggannya adalah orang-orang yang berdomisili di sekitar angkringan tersebut, maka suasana kekeluargaan yang kental dapat dengan mudah terbangun. Aku saat itu benar-benar bisa rileks dan asyik ngobrol ngalor ngidul (pinjam istilah jawa) dengan beberapa pengunjung lain yang bahkan baru saat itu aku kenal. Agaknya suasana inilah yang sanggup mengikat pelanggan untuk betah dan selalu rindu untuk kembali lagi keesokan harinya.
Ya, suasana ini juga yang merupakan kelebihan angkringan yang tidak ditemukan bahkan pada waralaba dari luar negeri sekalipun, yang jika saja mendapat sentuhan pengelolaan manajemen yang lebih baik dan tidak sesederhana pengelolaannya selama ini, bisa jadi warung ini akan menjadi saingan dari KFC misalnya...
Ah, entahlah. Ini mungkin Cuma pikiran iseng yang melintas di kepalaku saat itu. Dan sialnya, sebelum khayalanku terlalu jauh, kawanku mengajak pulang. ”Angkringan sudah mau tutup”, katanya.
Jogya, 2003
Warung itu hanyalah gerobak bertenda plus dua buah bangku panjang sederhana. Pemiliknya adalah seorang ketua RT di lingkungan sebelah kos-kosanku. Mayoritas pengunjungnya adalah mahasiswa di lingkungan tersebut. Dagangannya mulai dari air es sampai es milo; dari pisang goreng sampai tahu goreng; dari nasi kucing, sampai ayam goreng lengkap dengan sayurannya. Belakangan, setelah mengenal lebih banyak angkringan, saya baru tau bahwa menu yang belakangan adalah modifikasi dari menu angkringan kebanyakan. Umumnya angkringan yang memberikan pilihan menu komplit seperti itu hanya pada angkringan yang beroperasi pada wilayah yang dekat dengan kos-kosan mahasiswa.
Suasananya santai. Siapa saja bisa ngobrol berjam-jam disitu hanya dengan bermodalkan segelas teh panas dan beberapa potong gorengan. Dan karena pelanggannya adalah orang-orang yang berdomisili di sekitar angkringan tersebut, maka suasana kekeluargaan yang kental dapat dengan mudah terbangun. Aku saat itu benar-benar bisa rileks dan asyik ngobrol ngalor ngidul (pinjam istilah jawa) dengan beberapa pengunjung lain yang bahkan baru saat itu aku kenal. Agaknya suasana inilah yang sanggup mengikat pelanggan untuk betah dan selalu rindu untuk kembali lagi keesokan harinya.
Ya, suasana ini juga yang merupakan kelebihan angkringan yang tidak ditemukan bahkan pada waralaba dari luar negeri sekalipun, yang jika saja mendapat sentuhan pengelolaan manajemen yang lebih baik dan tidak sesederhana pengelolaannya selama ini, bisa jadi warung ini akan menjadi saingan dari KFC misalnya...
Ah, entahlah. Ini mungkin Cuma pikiran iseng yang melintas di kepalaku saat itu. Dan sialnya, sebelum khayalanku terlalu jauh, kawanku mengajak pulang. ”Angkringan sudah mau tutup”, katanya.
Jogya, 2003









